Oreos bukan cuma biskuit untuk dicelupkan ke susu; ia juga sering berubah menjadi bahan eksperimen kuliner yang bikin alis naik.
Kenapa oreos gampang jadi bahan pembicaraan?
Ada makanan yang populer karena rasanya familiar. Ada juga yang ramai karena idenya terasa sedikit “lah, kok kepikiran?”. Oreos sering masuk kategori kedua. Bentuknya mudah dikenali, rasanya sudah punya penggemar, dan formatnya cukup fleksibel untuk dipasangkan dengan makanan atau tema lain.
Dari bahan pencuci mulut sampai kolaborasi dengan makanan gurih, biskuit ini punya daya tarik yang cukup luas. Ketika muncul dalam bentuk yang tidak biasa, orang biasanya tidak cuma bertanya soal rasa. Mereka juga penasaran dengan tampilannya, ceritanya, kelangkaannya, dan apakah produk itu benar-benar dijual atau hanya bagian dari kampanye.
Menurut saya, justru rasa penasaran inilah mesin utama tren oreos. Orang belum tentu langsung membeli, tetapi bisa ikut membahas, membagikan foto, atau mencari tahu seperti apa produknya. Di dunia kuliner, rasa penasaran kadang bekerja seperti tester gratis—bedanya, tester ini ada di kepala.
Dari biskuit manis ke burger ayam
Salah satu contoh paling nyeleneh datang dari pemberitaan detikFood tentang kolaborasi KFC yang menghadirkan burger dengan unsur Oreo. Berita tersebut menyebut adanya ayam goreng dan remahan biskuit dalam kreasi itu.
Kombinasi ini menarik karena mempertemukan dua wilayah rasa yang biasanya dipisahkan: gurih dan manis. Ayam goreng identik dengan rasa asin, renyah, dan berbumbu, sementara biskuit menghadirkan karakter manis serta tekstur remah. Hasil akhirnya tentu memancing pertanyaan klasik: ini inovasi atau tantangan makan?
Tanpa mencicipinya langsung, kita tidak bisa menghakimi apakah pasangan rasa tersebut cocok untuk semua orang. Namun dari sisi komunikasi kuliner, konsepnya jelas mudah diingat. Burger ayam biasa mungkin terdengar familiar, tetapi burger dengan remahan biskuit manis punya cerita yang lebih panjang untuk diceritakan.
DetikFood juga pernah memberitakan kolaborasi Oreo dan KFC yang menghadirkan biskuit dengan rasa ayam goreng. Ini menunjukkan bahwa eksperimen tidak selalu berhenti pada penambahan biskuit ke makanan utama. Profil rasa ayam goreng pun bisa dibawa ke produk biskuit.
Kalau sebuah makanan membuat orang bertanya, “Serius ini rasanya begitu?”, berarti konsepnya sudah berhasil mencuri perhatian.
Rasa unik tidak selalu berarti cocok untuk semua orang
Tren rasa unik sering membuat kita lupa bahwa pengalaman makan sangat subjektif. Satu orang bisa menganggap perpaduan manis dan gurih sebagai kejutan menyenangkan. Orang lain mungkin merasa dua rasa itu sebaiknya tetap berteman dari kejauhan.
Ada beberapa hal yang biasanya memengaruhi penerimaan terhadap produk seperti ini:
- Keseimbangan rasa: rasa manis, asin, gurih, dan aroma bumbu perlu terasa seimbang agar tidak saling menenggelamkan.
- Tekstur: remah biskuit, lapisan krim, atau bagian makanan yang renyah dapat memberi pengalaman berbeda saat dikunyah.
- Ekspektasi: orang datang dengan bayangan rasa biskuit manis, lalu menemukan unsur gurih yang tidak diduga.
- Konteks kolaborasi: nama besar dua produk dapat membuat orang tertarik mencoba, bahkan sebelum tahu detail rasanya.
Jadi, jangan heran kalau sebuah produk terasa lebih seru untuk dibicarakan daripada untuk dimakan setiap hari. Ada makanan yang diciptakan sebagai menu rutin, ada pula yang memang dirancang sebagai pengalaman singkat dan berbeda.
Kolaborasi edisi terbatas dan efek kelangkaan
Selain eksperimen rasa, oreos juga muncul dalam kolaborasi yang mengandalkan unsur koleksi. Hypebeast memberitakan edisi “Purple Pancake” untuk merayakan 13 tahun BTS. Dari judul pemberitaan tersebut, terlihat bahwa produknya tidak hanya menjual rasa, tetapi juga membawa tema perayaan dan identitas komunitas penggemar.
Di sisi lain, Solotrust memberitakan kolaborasi Oreo x Supreme dan menyoroti harganya. Karena artikel sumber memang membahas harga, produk semacam ini bisa dilihat bukan sekadar sebagai camilan, melainkan juga sebagai barang kolaborasi yang punya daya tarik kolektor.
Di sinilah konsep limited edition bekerja. Ketika suatu produk disebut terbatas, orang biasanya merasa perlu mengambil keputusan lebih cepat. Bukan berarti semua orang pasti membeli, tetapi muncul dorongan untuk setidaknya mencari tahu sebelum kesempatan berlalu.
Menurut saya, strategi seperti ini mirip tiket pertunjukan kecil: pengalaman utamanya bukan cuma benda yang dibawa pulang, tetapi cerita bahwa kamu pernah melihat atau memilikinya saat masih ramai. Bedanya, tiket tidak bisa dicelupkan ke susu. Walaupun, kalau ada yang mencoba, internet mungkin akan langsung punya bahan diskusi baru.
Varian rasa baru dan cara membaca tren
Kompas.com pernah membahas lima varian rasa baru Oreo yang hadir pada 2018. Pemberitaan seperti ini memperlihatkan bahwa variasi rasa sudah lama menjadi bagian dari cara produk biskuit menjaga perhatian konsumen, bukan tren yang muncul mendadak kemarin sore.
Namun, daftar varian saja belum cukup untuk menjelaskan mengapa suatu produk bisa ramai. Kita juga perlu melihat cara produk itu diperkenalkan. Apakah ia hadir sebagai pilihan rasa baru, kolaborasi dengan makanan lain, edisi perayaan, atau bagian dari kampanye yang lebih besar?
Contohnya, Campaign Indonesia membahas strategi Mondelez di balik kampanye “Oreo Milky Way Dunk”. Dari sini, kita bisa melihat bahwa aktivitas mencelupkan biskuit bukan cuma kebiasaan makan, tetapi dapat dikembangkan menjadi ide komunikasi. Gerakan sederhana yang dilakukan banyak orang ternyata bisa menjadi pusat kampanye.
Kalau kamu ingin membaca tren oreos dengan lebih jernih, perhatikan tiga lapisan berikut:
- Produk: apa yang sebenarnya berubah—rasa, bentuk, kemasan, atau kombinasi dengan makanan lain?
- Cerita: apakah ada tema perayaan, komunitas penggemar, atau gagasan tertentu yang menyertai produk?
- Pengalaman: apakah konsumen diajak mencicipi, mengoleksi, membagikan foto, atau melakukan aktivitas tertentu?
Dengan cara ini, kita tidak sekadar melihat “biskuit rasa aneh”, tetapi memahami alasan di balik kemunculannya.
Kenapa strategi seperti ini menarik bagi konsumen?
Produk yang familiar memberi rasa aman, sementara varian baru memberi alasan untuk mencoba lagi. Kombinasi keduanya cukup kuat. Konsumen tidak mulai dari titik nol karena sudah mengenal bentuk dan kategori produknya, tetapi tetap mendapat kejutan dari rasa, kemasan, atau kolaborasi.
Kolaborasi juga membuat percakapan menyebar ke beberapa kelompok sekaligus. Penggemar biskuit tertarik karena produknya, penggemar makanan cepat saji tertarik karena menunya, dan penggemar budaya populer tertarik karena tema kolaborasinya. Satu produk bisa masuk ke beberapa percakapan tanpa harus memaksa semua orang memiliki alasan yang sama.
Tetap saja, tren tidak otomatis berarti semua produk akan cocok dengan selera mayoritas. Edisi terbatas bisa cepat ramai lalu menghilang dari pembicaraan. Varian rasa baru bisa menarik pada gigitan pertama, tetapi belum tentu menjadi pilihan rutin. Karena itu, kata “viral” lebih tepat dibaca sebagai tanda perhatian publik, bukan jaminan kualitas atau kecocokan rasa.
Jadi, mana yang paling menarik?
Kalau dilihat dari sisi ide, kolaborasi makanan gurih dengan biskuit manis adalah yang paling mudah memancing rasa ingin tahu. Kalau dilihat dari sisi komunitas, edisi bertema perayaan dan kolaborasi budaya populer punya daya tarik yang berbeda. Sementara itu, varian rasa baru menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan kebiasaan ngemil sehari-hari.
Ketiganya menunjukkan satu hal: oreos dapat diposisikan sebagai camilan, bahan eksperimen, benda koleksi, sekaligus alat bercerita dalam kampanye. Itulah alasan topiknya terus punya ruang untuk muncul lagi dengan wajah berbeda.
Kalau suatu hari kamu menemukan biskuit dengan rasa ayam goreng, pancake ungu, atau pasangan gurih-manis lain, jangan buru-buru menyebutnya aneh. Bisa jadi memang tidak cocok di lidahmu, tetapi dari sisi ide, ia sedang mencoba membuat camilan biasa terasa seperti sebuah peristiwa kecil.
Dari semua konsep yang pernah diberitakan, mana yang paling ingin kamu coba: burger dengan remahan biskuit, biskuit rasa ayam goreng, atau edisi terbatas bertema khusus?